FENOMENA BULAN LANGKA MEMUKAU WARNA DUNIA, APAKAH PERTANDA KIAMAT?


Bulan biru (blue Moon) terjadi ketika pola hari dalam suatu tahun berarti bahwa ada 13 kali bulan purnama alih-alih 12 seperti biasanya. Saking jarangnya fenomena ini, ada idiom dalam bahasa Inggris "once in a blue moon" berarti kejadian yang amat jarang.

Tapi bulan biru kali ini akan lebih jarang lagi karena ia juga sekaligus supermoon - ketika bulan tampak lebih cerah dari biasanya karena berada pada titik terdekat dalam orbitnya mengitari planet Bumi.

Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORPA-BRIN), yang dahulu bernama LAPAN, mengatakan fenomena Super Blue Moon akan terjadi di Indonesia mulai Rabu malam (30/08) dan puncaknya pada Kamis malam (31/08). Fenomena ini dapat dilihat secara langsung tanpa alat bantu.


Namun, mengapa fenomena ini dinamai Blue Moon atau bulan biru?

Hal ini disebabkan karena siklus bulan membutuhkan waktu 29,5 hari untuk menyelesaikan satu siklusnya. Oleh karena itu, secara teknis, ada 12,4 bulan purnama setiap 365 hari. Artinya, setiap 2,8 tahun rata-rata ada 13 fenomena bulan purnama dalam 12 bulan.

Fenomena Blue Moon yang jatuh pada 30-31 Agustus 2023 ini, berbeda dengan yang terjadi dengan tahun sebelumnya. Sebab, bulan purnama biru kali ini disebut sebagai supermoon.

Alasannya, karena tepat di Agustus tahun ini, jarak bulan saaf purnama sangat dekat dengan Matahari.

Ini tak terlepas dari orbit Bulan yang berbentuk lonjong atau elips, yang ada saatnya bulan berada pada jarak yang jauh dari orbit Bumi (apogee), ada juga saat bulan berada sangat dekat dengan Bumi (perigee).

Bulan purnama besar ini dulunya dikenal dengan nama perigean, lalu istilah supermoon menjadi lebih populer sejak sekitar satu dekade yang lalu.


Dewan Redaksi:Jibriel Kevin 

Editorial Fenomenal



Komentar